Pada hari Jum'at ini sholat duha atau ceramah agama hanya di laksanakan kira-kira 20 menit sehingga tidak begitu mengambil banyak jam pelajaran siswa.
Kamis, 15 Juli 2010
Sholat Duha Berjamaah
Pada hari Jum'at ini sholat duha atau ceramah agama hanya di laksanakan kira-kira 20 menit sehingga tidak begitu mengambil banyak jam pelajaran siswa.
Minggu, 26 Oktober 2008
Tradisi Tabot
Tradisi ini pertama kali dibawa masuk ke Bengkulu oleh para pekerja asal Bengalih, India berabad - abad silam. Ada 9 tahapan ritual yang intinya adalah mengumpulkan kembali potongan-potongan tubuh Husien yang dicincang Yazid.
Tradisi dimulai dengan ritual mengambil tanah di Pantai Nala. Kemudian duduk penja. Setelah semalam suntuk mengikuti ritual menjara, esok malamnya tanggal 7 Muharam, kembali Kami turun ke jalan untuk melihat langsung ritual mengarak penja.
Berbeda dengan menjara, tidak ada gegap gempita. Mengarak penja yang sudah didudukan dalam keranda ini hanya dilakukan anak muda yang memikul Tabot kecil berisi penja. Atau benda yang diibaratkan potongan tangan Husien dan mereka mengaraknya keliling kampung. 17 kelompok mengarak Tabot kecil mereka menuju Lapangan Merdeka.
Disini ke 17 Tabot yang diusung dari kampung masing-masing melakukan soja atau penghormatan dengan dua Tabot kecil yang statusnya di tuakan.
8 Muharam. Ada sesajian khusus untuk mengarak sroban yakni nasi kejri. Nasi yang dibuat dari campuran beras dan kacang hijau, serta sesajian sayur 7 rupa.
Setelah mengarak jari-jari, kini ritual mengarak bagian kepala Husien atau arak seroban. Dari pengamatana Kami, dua kelompok Tabot yang melakukan persiapan khusus untuk ritual ini. Seroban yang akan diarak berupa kain putih yang dilipat menyerupai bentuk kepala Husien yang dipengal Yazid.
Kendati hanya persiapan, Kami melihatnya sebagai sebuah ritus rumit dan sangat sakral. Setelah seroban disimpan di Gerga, sesajian dikeluarkan sebagai wujud syukur. Namun kali ini ada warga yang berebut seperti dalam prosesi duduk penja. Sehingga Kamipun bisa turut mencicipinya.
Malam pun tiba. Mengarak seroban dimulai dengan memindahkan jari-jari serta seroban atau kepala Husien kedalam Tabot kecil. Barisan Tabot kecil berisi seroban dan penja kembali melakukan penghormatan pada Tabot tua. Ritual ini pada intinya ingin memberitahu kepada masyarakat, bahwa bagian kepala dan jari-jari Husien telah ditemukan.
Apa sebenarnya Tabot. Benda inilah yang sebenarnya paling penting dalam upacara ini. Tabot berarti kotak kayu atau peti. Konon kabarnya, menurut cerita para leluhur ketika Husien Bin Abi Thalib tewas dalam perang, turun sebuah bangunan kotak mirip masjid yang menutupi tubuh Husien. Lalu mengangkat jasadnya ke langit.
Saat Kami tiba di Bengkulu, sebagian warga yang menyambut perayaan ini sibuk membangun Tabot. Kami mampir kesalah satu rumah warga untuk mengetahui bagaimana Tabot dibuat.
Bagi warga disini, Tabot tidak hanya ritual yang sakral, namun pesta rakyat. Salah satu warga yang Kami temui adalah Wasnafiah. Sebagai suami dari keturunan Tabot Imam sejak awal Januari keluarganya sudah membuat Tabot yang tingginya 8 meter ini. Setiap upacara Tabot ia selalu membuat sebuah Tabot sakral dan Tabot pembangunan.
Biaya pembuatan ini tentu saja tidak kecil. Tak jarang mereka harus menyisihkan dana khusus setiap tahun untuk membuat Tabot. Tabot sakral yang akan ikut perayaan Tabot kali ini hanya 17 buah.
Sesuai dengan jumlah kelompok keturunan Tabot saat ini. Bentuk Tabot sakral sangat khusus, simetris dan tidak memiliki anak. Karena kesakralannya, Tabot ini hanya boleh dibuat dari pelepah rumbia dan bambu.
Konon zaman dulu, warna Tabot dan pernak pernik pada Tabot sakral juga harus sesuai dengan permintaan leluhur yang datang melalui mimpi. Namun bentuknya juga mirip masjid.
Tabot Naek Pangkek
Dua hari menjelang puncak upacara Tabot, warga Bengkulu seolah berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan Tabot. Rupanya waktu sebulan bagi mereka belum cukup untuk menghias Tabot, seolah masih saja ada yang kurang.
Warga disini membuat dua macam Tabot. Tabot sakral dan pembangunan yang sifatnya hanya meramaikan saja. Hari ini sebagian warga bersiap melakukan prosesi Tabot Naek Pangkek. Yakni menyempurnakan kembali Tabot yang mereka buat dengan menyambungkan bagian bawah dengan puncak Tabot.
Kesibukan Kami lihat saat di rumah salah satu warga yang membuat Tabot Imam Kampung Batu. 99 persen Tabot sakral yang mereka buat hampir selesai. Bagian puncak yang harusnya selesai dipasang di siang hari, ternyata sudah lebih dulu mereka kerjakan dengan alasan untuk mengejar waktu.
Tabot terdiri dari tingkatan dengan satu puncak. Untuk menghindari kabel listrik di jalan, puncak Tabot setinggi 8 meter ini diikatkan tali, sehingga sewaktu-waktu bagian puncak bisa ditundukan.
Ini adalah Tabot sakral mirip Tabot Imam Pasar Melintang. Bentuknya agak lebih berbeda dengan Tabot sakral lain. Saat ini Tabot sakral sedang menunggu saat untuk prosesi Naek Pangkek. Sebelum prosesi, Imam memindahkan lebih dulu penja, tanah dan seroban dari Tabot yang lebih kecil kedalam Tabot sakral ini.
Sesudah Naek Pangkek, Tabot yang sudah berisi dan indah dipandang inipun diarak menuju Lapangan Merdeka dengan diiringi bunyi-bunyian dol dan talsa. Ini dinamakan arak gedang.
Arak-arakan ini beraknir di Lapangan Merdeka. Tabot sakral dan Tabot pembangunan ditaruh berjejer ditempat terpisah hingga seluruh Tabot lengkap. Tabot ini dibarikan pershaf atau disebut Tabot bersanding.
Kami merasakan suasana di lapangan Merdeka menjadi semarak bak pasar malam. Tabot pembangunan dengan berbagai kreasi seperti kuda terbang dan bunga raflesia raksasa ikut meramaikan suasana dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Kesempatan ini dimanfaatkan masyarakat untuk berfoto bersama keluarga didepan Tabot. Pada malam ini juga akan ada juri yang memberi penilaian pada Tabot. Dan yang dinilai bagus akan menjadi pemenangnya.
Tabot Tebuang
Puncak perayaan upacara Tabot akhirnya tiba. Setelah 9 hari rangkaian upacara berlangsung, esoknya dilakukan ritual Tabot Tebuang. Tabot Tebuang adalah ritual menguburkan kembali potongan - potongan tubuh Husien Bin Ali Bin Abi Thalib.
Pukul 9 pagi. 17 Tabot sakral yang berada di Lapangan Merdeka dibawa masuk satu persatu memasuki Gedung Daerah. Diperlukan 7 hingga 8 orang untuk mendorong gerobak yang membawa Tabot sebesar ini.
Pawai pun dimulai. Berada di barisan paling depan adalah para Imam Tabot. Disusul pembawa jari-jari dan Tabot sakral. Tabot Panglima ini ibarat panglima perang yang memimpin pasukan. Dibelakangnya Tabot Bangsal, Tabot Imam dan tabot yang lain.
Hari ini Kami baru bisa melihat dengan jelas beragam bentuk Tabot yang dibuat warga selama sebulan penuh. Sebagian Tabot sengaja dibuat untuk menghindari kabel listrik yang melintang di jalan.
Ritual ini menyedot perhatian warga Bengkulu. Dalam sekejap jalanan di kota ini semarak dengan barisan Tabot dengan beragam warna dan bentuk. Selain Tabot Sakral, turut dalam pawai ini 80 tabot pembangunan atau Tabot versi pemerintah yang dibuat untuk meramaian upacara ini.
Sekitar 3 kilometer perjalanan yang harus Kami tempuh, teriknya matahari memaksa Kami dana peserta pawai harus memperlambat jalan untuk menghemat tenaga. Ritual ini seolah mengambarkan perjalanan Tabot menuju Padang Karbala. Yakni medan pertempuran dimana Husien Bin Ali bin Thalib bertarung dengan pasukana Yazid.
Arak-arakan berhenti sesaat untuk melakukan sholat Dzuhur. Barisan Tabot berubah. Tabot Panglima berpindah ke barisan ketiga dan Tabot Imam kini berada di barisan depan. Para imam melakukan penghormatan kepada Salmah, nenek berusia 95 tahun yang menjadi juru kunci gerbang.
Ia konon keturunan kelima Syah Bedar Abdullah. Tanpa ijin dia, Tabot tidak bisa masuk. Dialog yang dilakukan kedua tokoh ini adalah usaha untuk meluruskan bila ada kesalahan saat upacara berlangsung. Terkadang terjadi perang urat syaraf, karena masing-masing mempertahankan pendapat.
Rombongan Tabot akhirnya diijinkan masuk ke lokasi yang berisi 3 makam tua. Tabot akhirnya tiba di tempat yang di tuju yakni lokasi pemakaman Imam Sengolo, tokoh Tabot asal Bengala, India yang memperkenalkan dan melestarikan upacara ini.
Kami diberitahu bahwa wanita kemasukan roh leluhur. Kami mulai merasakan suasana mistis. Penja dan seroban yang diibaratkan telapak tangan dan kepala Husien diletakkan di makam.
Bau kemenyan menambah kental suasana mistis. Penja dan seroban akan dibawa pulang kembali, hanya tanah yang diambil di awal upacara dikubur di lokasi ini.
Lokasi ini seolah juga menjadi pemakaman Tabot Sakral. Tabot yang dibuat selama sebulan penuh dibuang disini. Konon dahulu, Tabot dibuang ke jurang. Namun situasi saat ini sudah tidak memungkinkan.
Pembuangan Tabot ini adalah sebuah satir kepada kaum Yazid dan Bani Umayah yang rela membuang keimaman mereka demi kekuasaan. Tuntas sudah jalannya upacara selama 10 hari. Kami merasakan lelahnya mengikuti jalannya upacara ini. Namun sekaligus memuaskan.
Sejarah Tabot
| | |
| | |
| Tabot adalah suatu perayaan massal dengan bermacam upacara ritual. Pelaksanaan acara Tabot dirayakan setiap tanggal 1 s/d 10 Muharram setiap tahun. Perayaan ini dimaksudkan untuk mengenang kembali wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW (Hasan dan Husien) dalam membela dan menegakkan Islam di Karabella Irak pada bulan Muharram 61 H. |
BUDAYA TABOT

Kerajinan Kulit Kerang
Berbagai lampu yang unik dan barang yang cantik ini, merupakan produk kerajinan dari kulit kerang. Sangat cocok untuk penghias ruangan. Pembuatnya tangan - tangan terampil para perajin kulit kerang.
Berbagai jenis produk krajinan dari kulit kerang ini tidak saja dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke mancanegara.
Disinilah lokasi sentra kerajinan kulit kerang. Pemiliknya Ibu Hajjah Siti Nur Handiah. Lebih dari dua ribu jenis produk kerajinan dari kulit kerang dibuat disini.
Mulai dari berbagai jenis produk penghias ruangan, seperti pot bunga ini. Selain itu juga terdapat produk kerajinan berupa perabot rumah. Seperti meja makan eksklusif yang dilapisi kulit kerang ini.
Proses pembuatan kerajinan dari kulit kerang cukup sederhana, namun memerlukan keterampilan khusus, dan sentuhan seni yang cukup rumit. Disinilah produk kerajinan kulit kerang dibuat.
Pembuatan kerajinan ini diawali dengan pengolahan bahan baku. Mula - mula kulit kerang dibersihkan. Lalu dimasukkan kedalam oven dan diberi campuran tertentu agar kulit kerang yang keras berubah menjadi lunak sehingga mudah diolah.
Setelah itu, barulah kulit kerang diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang diinginkan.Produk kerajinan kulit kerang disini dibedakan menjadi berbagai jenis produk. Diantaranya kerajinan kulit kerang murni. Kerajinan kombinasi kerang dengan teknik patry. Serta kerajinan kulit kerang yang dikombinasikan dengan fiber, produk kayu furniture.
Sedangkan ini merupakan produk favorit yang banyak disukai konsumen. Hiasan kulit kerang untuk gantungan pintu yang disebut Windcem.
Nah disinilah dapat dilihat produk kerajinan kulit kerang yang sudah jadi. Berbagai produk kerajinan ini tidak saja dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke berbagai Negara, seperti Australia, Hongkong, dan negara - negara Eropa Barat.
Untuk produk tujuan ekspor, diberi perlakuan khusus tergantung selera konsumennya. Seperti produk tujuan Italia banyak menggunakan kombinasi warna. Sedangkan produk tujuan Spanyol umumnya menggunakan warna -warna emas.
Lampu Hias Dari Kayu
Keindahan dan kemewahan sebuah rumah, bukan hanya terletak pada ukuran dan bentuk bangunannya melainkan juga pada bagaimana mengatur tata letak furniturenya dan furniture yang digunakan. Rumah yang berkonsep minimalis, misalnya, belum tentu berkurang keindahannya bila dibandingkan dengan rumah mewah berikut aneka furniturenya yang mahal dan bermerek terkenal, hanya karena menggunakan furniture “sederhana”.
Berkaitan dengan itu, kini banyak rumah berkonsep minimalis - ukuran bangunan tidak luas dan jumlah penghuninya tidak banyak - tapi ingin tetap terlihat indah dan nyaman, ditata dengan furniture “sederhana” tapi berfungsi ganda. Ambil contoh, lampu hias dari kayu limbah. Selain mampu menerangi setiap sudut ruangan, lampu-lampu artistik yang terbuat dari kayu (limbah) sengon, pinus, rami, sungkai, dan mahoni ini juga dapat memperindah ruangan-ruangan nan mungil sebuah rumah.
“Memang sejauh ini atau 70% peminat lampu hias kreasi saya ini masih kalangan ekspatriat. Karena, lampu-lampu semacam ini tidak mudah masuk ke suasana rumah orang zaman sekarang, yang lebih memilih produk-produk Da Vinci, misalnya. Lampu-lampu saya hanya diminati oleh orang-orang yang konsep rumahnya minimalis,” kata Rudianto Handojo, kreator lampu hias dari kayu limbah.
Rudy, begitu dia disapa, yang mulai “membisniskan” hobinya ini sekitar enam tahun lalu termasuk pencinta seni sejati. “Sebagai arsitek, tentu saya ingin membangun rumah yang bagus. Tapi, jika rumah yang bagus itu tidak dihias dengan bagus pula, maka ia tidak akan menjadi rumah bagus. Apalagi, bila tidak ditata dengan lampu yang bagus, keindahan sebuah rumah tidak akan tampak,” kata Rudy.
Sehubungan dengan hal itu, dia mencoba membantu membangun karakter sebuah rumah dengan elemen lampu hias seperti yang dia buat, yaitu lampu yang memerangkap cahaya. Lalu, dia biarkan cahaya itu mencari celah sendiri. Ketika akhirnya cahaya itu menemukannya, maka bentuk yang keluar adalah pantulan cahaya. “Ekspresi pantulan cahaya itulah, yang saya harapkan dapat membuat ruangan di mana lampu itu berada menjadi lebih bagus. Jadi, berbeda dengan lampu biasa yang memainkan cahayanya secara lepas,” jelasnya.
Untuk bahan bakunya, Rudy pun berburu sisa-sisa kayu sengon ke Sukabumi, limbah kayu rami di Klender, potongan-potongan tak terpakai kayu sungkai dari beberapa industri pembuatan furniture, dan sisa-sisa kayu pinus sebagai hasil pemotongan kayu legal yang dilakukan Perhutani. “Kayu-kayu ini warnanya terang atau muda, sehingga sangat bagus untuk memantulkan cahaya. Di samping itu, mereka itu jenis kayu lunak sehingga lebih mudah dibentuk,” ujarnya. Untuk aksentuasi, dia menggunakan kayu mahoni yang berwarna merah tua atau cenderung gelap.
Mengapa kayu? “Kayu itu mengandung unsur hangat. Selain itu, kayu di Indonesia bagus dan kita kaya akan jenis kayu. Jadi, mengapa tidak kita eksplor saja? Di sisi lain, saya menggunakan limbah sebab tidak ada yang menjual kayu dengan ukuran yang saya inginkan. Ada keterbatasan ketersediaan bahan baku,” kata Rudy yang terinspirasi oleh produk-produk IKEA (industri mebel dari kayu terbesar saat ini, red.) dan lampu buatan Skandinavia (negara penghasil kayu pinus terbesar di dunia, red.) “Unsur seni produk mereka sangat kuat, mirip dengan lampu yang saya buat,” jelasnya.
Lampu-lampu handmade ini dijual dengan harga Rp150 ribu–Rp900 ribu. Penetapan harga ini bukan terletak pada ukuran lampu, melainkan pada penggunaan bahan baku dan mood. “Dalam arti, kalau saya merasa kreasi saya ini indah meski gampang dibuatnya, ya, saya kasih harga mahal. Harga berdasarkan mood atau nilai seninya,” ucapnya. Dalam sebulan, Rudy yang menitipkan hasil karyanya di sebuah outlet di Kemang mampu menjual 5–15 lampu atau menerima pemesanan hingga 40 lampu. Karena itu, per bulan dia mencetak omset penjualan sekitar Rp20 juta.
Sabtu, 25 Oktober 2008
Kerajinan Kayu dan Bambu


Selain itu juga dihasilkan berbagai patung primitive dari daerah lain yang pasarnya ke luar Daerah. Selain itu juga dihasilkan Kayu yang di ukiru serta guci lukis maupun tempat perhiasan dari kayu.
Di Bengkulu selain kerajinan kayu juga berkembang mebel kayu baik jenis repro maupun desain baru dengan berbagai fungsi dan guna.